Mengenal Lebih Dekat Penyakit Gagal Ginjal

BeritaKapan - Mengenal Lebih Dekat Penyakit Gagal Ginjal. Gagal ginjal bisa terjadi jika ginjal tidak dapat melakukan tugasnya yaitu menyaring produk sisa keluar dari darah dengan baik. Kondisi ini ternyata dapat terjadi bertahun-tahun tanpa diketahui sampai terjadi kerusakan parah. Penyakit ini sebenarnya banyak terjadi di Indonesia. Sekitar dua pertiga kasus gagal ginjal pada orang dewasa diakibatkan hanya karena diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak segara untuk diobati. Penyebab lain dari penyakit gagal ginjal adalah infeksi, cedera, terkena racun, atau obat-obatan. 

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Gagal Ginjal
Penyakit gagal ginjal bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan urine untuk mengukur jumlah protein yang ada didalam tubuh. Adanya kadar protein yang berlebihan dalam sampel urine biasanya menjadi pertanda adanya kerusakan nefron atau bisa disebut dengan unit penyaring pada ginjal. Jika pemeriksaan darah dan urine menunjukkan bahwa adanya penurunan pada fungsi ginjal, maka dokter pun akan melakukan pemeriksaan USG ginjal.

Tahukah kamu bahwa gagal ginjal kronis akan mengenai hampir semua sistem tubuh. Penyakit ini bahkan dapat berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir. Jika ini terjadi secara terus menerus, maka ginjal berhenti berfungsi dan pilihanya hanyalah cuci darah atau cangkok ginjal untuk mempertahankan hidup. 

Menurut dr. Irsyal Rusad, Sp.PD, bila ginjal yang sudah mengalami kerusakan nantinya tidak digantikan fungsinya, maka sisa-sisa sampah proses metabolisme tubuh, toksin seperti urea, kreatinin, kelebihan cairan, dan sebagainya akan menumpuk dalam tubuh. 

Kondisi ini memang dapat menyebabkan bermacam keluhan, seperti sesak nafas, mual, muntah, tubuh bengkak, hipertensi dan bahkan kematian mendadak. Jadi, kalau memang sudah mengalami gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah, sesuai dengan rekomendasi dokter yang merawat, keluhan itu akan dialaminya.

Pilihan terapi pengobatan lainnya adalah dengan cara cangkok ginjal. Prosedur ini sudah mengalami banyak kemajuan dan aman. Dokter-dokter di Indonesia pun sudah banyak yang melakukannya. Persoalannya adalah bagaimana untuk mencari donor yang memiliki kesesuaian antara jaringan donor dan penerima.

Jangan Lupa Share Ya