Dedi Mulyadi Respons Panji Gumilang Soal Kata Aing, Ini Dalam Budaya Sunda

BeritaKapan - Perbincangan mengenai penggunaan kata "aing" dalam bahasa Sunda kembali menjadi sorotan publik setelah muncul penjelasan dari pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang. Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi kepada Panji Gumilang yang telah memberikan pandangan mengenai asal-usul penggunaan kata "aing" dalam budaya Sunda.


Ilustrasi, Dok. Tribunnews


"Hatur nuhun Bapak Panji Gumilang sudah berkomentar tentang aing," ujar Dedi Mulyadi dalam unggahan videonya, dikutip radarcirebon.com, Selasa 14 Juli 2026.

Ia menilai diskusi mengenai bahasa daerah tidak cukup dipahami dari penggunaan sehari-hari semata, tetapi juga harus melihat latar belakang sejarah, budaya, dan perkembangan masyarakat yang membentuk bahasa tersebut.

Perdebatan mengenai kata "aing" bermula dari video Panji Gumilang yang beredar luas di berbagai platform media sosial.

Dilansir dari Radarcirebon.com, dalam video tersebut, Panji menilai masyarakat Sunda saat ini terlalu sering menggunakan kata "aing" sebagai kata ganti orang pertama.

Menurutnya, istilah tersebut sejatinya berasal dari wilayah Banten dan dalam penggunaannya dikenal sebagai bentuk bahasa yang kasar.

Ia kemudian memberikan contoh penggunaan kata tersebut dalam percakapan sehari-hari.

Panji juga menyebut bahwa istilah tersebut kini digunakan secara luas oleh masyarakat Jawa Barat, bahkan dalam situasi yang dianggap lebih santun dibandingkan pemakaian di daerah asalnya.

Pernyataan itu kemudian memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, termasuk tokoh budaya dan pengguna media sosial yang ikut membahas sejarah perkembangan bahasa Sunda.

Dedi Mulyadi Jelaskan Sejarah Kata "Aing"

Menanggapi polemik tersebut, Dedi Mulyadi memberikan penjelasan yang lebih luas mengenai asal-usul kata "aing".

Menurutnya, dalam sejarah Kerajaan Sunda, kata tersebut bukanlah bentuk kesombongan maupun ungkapan yang merendahkan orang lain.

Sebaliknya, kata "aing" mencerminkan nilai kesetaraan antarmanusia yang hidup dalam masyarakat Sunda pada masa lampau.

Dedi menjelaskan, pada masa Kerajaan Sunda belum dikenal sistem kasta maupun tingkatan sosial yang membedakan masyarakat berdasarkan status tertentu.

Karena itulah, penggunaan kata "aing" berkembang sebagai bentuk penyebutan diri yang menunjukkan kesetaraan, bukan superioritas.

Ia menambahkan, wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda pada masa itu membentang hingga kawasan yang kini menjadi Provinsi Banten.

Pusat pemerintahan kerajaan berada di Pakuan, yang saat ini dikenal sebagai wilayah Bogor.

Setelah masuknya pengaruh Islam, sebagian wilayah tersebut berkembang menjadi Kesultanan Banten yang kemudian turut membawa perubahan dalam perkembangan budaya dan bahasa masyarakat.

Digunakan dalam Sejarah Penyebaran Islam di Tanah Sunda

Dedi Mulyadi juga mengaitkan penggunaan kata "aing" dengan sejarah penyebaran Islam di Tatar Sunda.

Berita Kapan ID
Berita Kapan ID PT. Berita Kapan Digital

Posting Komentar untuk "Dedi Mulyadi Respons Panji Gumilang Soal Kata Aing, Ini Dalam Budaya Sunda"

Advertisement
Advertisement
Advertisement

Advertisement